Minggu, 05 Juni 2011

Pujangga Malam

Aku terbaring di bawah hamparan permadani malam
Berharap temaram dari kunang-kunang untuk menemani sepi ku
Aku hanya bisa memberi cengkrama pada sang waktu demi menjaganya dari jenuh
Dan kemudian hilanglah sudah...

Kini pembaringanku bersemayam dalam dekap hangat sang mentari
Cahaya ceria yang tak kenal lelah menghiburku

Saat kelam menyelimuti hampar luas duniaku
Mentari senantiasa tersenyum walau kadang tak dipandang
Ketika malam merasuk relung jiwa
Mentari tetap bersinar sebagai luna

Namun...

Ada kalanya sang pendosa senantiasa meratapi sang surya
Menyesali jerihnya keceriaan cahaya abadi
Meratap pada dinding kelam dunia
Bahwa ia ada di sampingnya

Itulah aku...

Aku,
Si pendosa yang tidak peka akan karunia
Aku,
Yang kikir akan nilai dari sebuah rasa
Selalu dibutakan oleh logika
Dan menghilangkan rungu hati ku

Jika kata terlambat masih jauh dari angan
Aku akan selalu berusaha untuk beramanat pada diri
Untuk berucap maaf walau raga ini sudah tak mampu
Untuk sekedar mengukir sayangku pada mentari hingga ahir sinarnya

By : NomiFAy

ini puisi buat seseorang yang saya pikirkan malam ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar